Penulis: Ikhwanul Halim
Genre: Antologi Cerpen
13cmx19cm; 180 halaman, paperback
Fiksi Ilmiah merupakan jenis literatur yang sangat spesifik yang ditujukan untuk para pembaca yang sangat spesifik juga. Selain memerlukan persyaratan tertentu agar dapat disebut sebagai fiksi ilmiah, ada unsur yang memerlukan evaluasi dan umpan balik ilmiah pula. Dengan kata lain, fiksi ilmiah membutuhkan kombinasi analisis ilmiah dan sastra. Meski fiksi, literatur perlu memanfaatkan sains yang baik untuk mebuat suatu situasi masuk akal.
Menurut Brian Aldiss dalam bukunya Trillion Year Spree (Atheneum, 1986), fiksi ilmiah adalah cabang dari fiksi gothik, dimulai dengan Frankenstein karya Mary Shelley (1818).
Pada awal 1930-an, Hugo Gernsback memperkenalkan istilah ‘fiksi ilmiah’, tentang mengenai literatur ‘baru’ yang dia publikasikan dalam Amazing Stories (1926). Hugo Gernsback pernah menggambarkan fiksi ilmiah (seperti yang dia bayangkan) sebagai literatur yang ditulis dalam mode Edgar Allen Poe, Jules Verne, tapi terutama H. G. Wells.
Era fiksi ilmiah modern dimulai pada tahun 1937 ketika John W. Campbell Jr memimpin Astounding Stories dan mengubah arah genre ini selamanya. Era modern fiksi ilmiah, di bawah pengaruh Campbell, menjadi genre yang kita kenal sekarang.
Era kontemporer fiksi ilmiah dapat dikatakan bermula ketika Harlan Ellison menerbitkan antologi bersejarahnya, Dangerous Visions, pada tahun 1967. Pada saat bersamaan Michael Moorcock sebagai editor majalah radikal New Worlds di Inggris mengizinkan segala eksperimen termasuk jenis baru yang disebut New Wave (Gelombang Baru) yang digagas para penulis dan editor yang merasakan kejenuhan sehingga diperlukan adanya perubahan radikal.
Gelombang Baru dalam fiksi ilmiah dikhususkan untuk menerbitkan cerita yang menerobos semua rintangan, menantang setiap aturan penerbitan yang ada. Penulis tidak hanya menulis tentang seks dan moralitas dengan cara baru dan mengejutkan, mereka juga berusaha memecahkan berbagai jenis mode naratif, seperti menulis cerita dimana garis waktu semuanya kacau.
Fiksi ilmiah di Indonesia kurang berkembang, meski bukan berarti nihil sama sekali. Fiksi sains yang muncul pertama kali di Indonesia adalah karya Djokolelono dengan judul Jatuh ke Matahari (1976). Sudah sewajarnya jika Djokolelono kemudian dikenal sebagai Bapak Fiksi Ilmiah Indonesia.
Fiksi ilmiah seperti yang ada sekarang adalah fenomena budaya di seluruh dunia yang mencakup media cetak dan media visual, bahkan banyak ditemukan dalam iklan dan video musik. Bahkan ada juga drama fiksi ilmiah, seperti R.U.R. besutan Karl Capek (1920) yang mengenalkan kata “robot” untuk pertama kalinya, atau opera seperti Aniara karya Karl-Berger Blomdahl (1959), berdasarkan sebuah puisi epik tahun 1953 oleh penyair Swedia pemenang Nobel Sastra tahun 1974 Harry Martinson, tentang wahana antariksa yang hilang di luar angkasa.




